Categories
Berita

Bangsa Jabar Tuntut Gelar Doktor Pendidik yang Lakukan Pelecehan Batu Lambang Peribadatan Dicabut

Laporan Wartawan Tribun Jabar Arief Permadi TRIBUNNEWS. COM, BANDUNG – Oknum dosen dengan diduga melakukan pelecehan terhadap kurang ajar lambang peribadatan di Situs Ciung Wanara di Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Oktober lalu berbuntut panjang.

Masukan Wartawan Tribun Jabar Arief Permadi

TRIBUNNEWS. COM, BANDUNG – Oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan terhadap akik lambang peribadatan di  Situs Ciung Wanara di Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Oktober lalu berbuntut panjang.

Sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat menyetujui membuat  Petisi  Karangkamulyan  yang berisi sejumlah tuntutan.

Itu meminta agar universitas negeri dalam mana dosen itu mengajar meninjau kembali status dosen tersebut jadi pengajar di universitas tersebut.

Petisi Karangkamulyan mereka rumuskan dalam pertemuan yang dilakukan dalam kampus Sekolah Tinggi Ilmu Hubungan (Stikom) Jalan Bojongkoneng, Kota Bandung, Selasa (17/11/2020). Jang Sukmanbrata, motor Petisi Karangkamulyan, mengatakan dalam pertemuan, sedikitnya ada 55 orang yang mendukung petisi tersebut.

“Namun, karena mereka tinggal dalam luar Bandung Raya, penandatanganan kesempatan ini hanya diwakili 26 orang sekadar, ” ujarnya dalam rilis dengan diterima Tribun, Selasa.

Ketua Stikom, Dr Deddy Djamaluddin MSc dan akademisi yang juga budayawan, Dr Etti RS, patuh Jang Sukmanbrata, ikut menandatangani  Petisi  Karangkamulyan  ini.

Baca juga: Tenaga Pendidikan Non-PNS daripada PAUD hingga Dosen Dapat Bantuan Rp 1, 8 Juta

“Ada juga pengarang Aan Permana Merdeka, dan sebesar tokoh kabuyutan serta perwakilan daripada komunitas adat, ” ujarnya.

Baca juga: Istana Akui Pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Jabar Arahan dari Pimpinan Tertinggi

“Perilakunya tak menunjukkan keadaban dan etika dasar seorang doktor, ” tulis itu dalam petisinya.

Di dalam siaran pers yang dikeluarkan Pasamoan Budaya Peduli Karangkamulyan (PBPK) disebutkan, pertemuan budaya yang menghasilkan Tuntutan Karangkamulyan  itu berlangsung secara virtual lewat grup WA Sunda-Nusantara.